Pada dasarnya pendidikan ialah sebagai media proses dalam pembangunan dan pengembangan kualitas serta daya saing manusia. Karena itu pendidikan berfungsi dalam rangka menanamkan nilai-nilai idealisme dalam keberlangsungan sosialisme manusia.

Pendidikan toleransi menjadi salah satu di antaranya yang penting untuk diterapkan di tengah keberagamaan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat—lebih hati-hati—tidak terjebak dari nilai-nilai keberagamaan yang salah, seperti kebanyakan masyarakat beragama saat ini memahami agama secara partikular yang bernuansa subordinasi, marginalisasi dan cenderung menampilkan pertentangan dan pertikaian di antara masyarakat beragama. Sehingga pelecehan antar masyarakat beragama senantiasa menghiasi perjalanan sosial masyarakat dan bangsa.

Karenanya menjadi penting bahwa pendidikan toleransi oleh masing-masing agama sangatlah diperlukan sebagai pedoman bagi pemeluknya  tentang bagaimana cara berintraksi—yang baik dan dibenarkan oleh agama—antar masyarakat agama satu sama lainnya.

Islam, jauh-jauh hari sejak kahadiran(nya), telah membimbing dan memberi arahan terhadap penganutnya tentang pendidikan toleransi antar sesama masyarakat (umat) beragama. Hal ini disadari karena hakikat penciptaan manusia setidaknya terjaring ke dalam tiga hal, pertama, ialah manusia agar saling mengenal satu sama lain, sebagaimana Firman Allah SWT yang berbunyi:

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa –bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. 49: 13).

Kedua, setelah saling mengenal, Islam mengisyaratkan bagi penganutnya untuk tidak saling mencela dan mencaci satu sama lainnya, baik secara ucapan maupun tindakan, maka yang dimunculkan adalah bagaimana agar saling memahami antar sesamanya. Hal ini digambarkan dalam Firman Allah SWT. yang berbunyi:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. 49: 11).

Ketiga, lalu kemudian sertakan dari saling mengenal dan memahami itu dengan saling bekerjasama dan tolong menolong dalam kebaikan. Seperti digambarkan juga dalam Firman Allah SWT. yakni:

Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.(Q.S. 5: 2).

Ketiga ayat di atas secara eksplisit menggambarkan tentang pendidikan toleransi dalam ajaran Islam, yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan kerukunan dan perdamaian antar masyarakat (umat) beragama. Lebih tegas lagi, Islam mendidik manusia supaya tidak ada unsur paksaan atau keterpaksaan dalam memeluk agama Islam, Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) (Q.S. 2: 256).

Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menghormati agama lain. Makanya, kehadiran Islam bukanlah suatu alasan yang dapat dipercaya atas munculnya intoleransi, tetapi sebaliknya, justru Islam telah memberikan pendidikan bagi penganutnya agar mengedepankan toleransi terhadap sesama manusia sekalipun dalam keyakinan yang berbeda.

Di samping itu, keragaman keberagamaan merupakan realitas kehidupan, makanya tidak dapat dipungkiri bahwa hakikat keragaman keberagamaan semata-mata adalah sunnah ilahiyah yang dari masing-masing agama itu memiliki cara pandang khusus dan berbeda-beda. Darinya, maka Toleransi menjadi solusi pendidikan dalam segala aspek kehidupan, sehingga dengan sendirinya toleransi itu menjadi eksistensi utama yang dibutuhkan dalam keberlangsungan hidup masyarakat keberagamaan.

Sementara nilai-nilai toleransi beragama setidaknya terdapat tiga pra-syarat di dalamnya, antara lain: Pertama, aktfi merawat perbedaan dengan  nilai positif, kedua, tidak mengklaim— pemilikan tunggal—kebenaran, maksudnya tidak saling membenarkan berdasarkan subyektifitas(nya) masing-masing, ketiga, saling menghargai dan menghormati.

Oleh karena itu, hemat penulis, bahwa nilai-nilai toleransi dalam pendidikan Islam harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari manusia, untuk menunjukan besarnya efektivitas toleransi itu, sehingga dari pada itu maka keberlangsungan hidup, kerukunan, perdamaian dan kesejahteraan antar masyarakat (umat) beragama akan lebih terasa dan senada dengan yang dicita-citakan oleh agama Islam.

Fikri Muanis Qalbi

Pengurus Pusat FKMTHI

Sc : fkmthi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here