Akhir-akhir ini, narasi term-term agama yang berkembang di media sosial banyak yang seolah digiring konteksnya ke dalam masalah politik. Karena itu bahasa agama yang digunakan kelompok ekstrimis ini perlu dikritisi apalagi jika melihat nilai-nilai yang dibawa dan diekspresikan secara langsung seolah tidak bertentangan dengan hadis yang dipahami secara tekstual.

“Kalau dalam studi Quran dan hadis, ketika mempelajari teks harus komperhensif. Pertama harus mengerti bahasa arab lalu harus mensingkronkan dengan teks yang lain dan tidak boleh bertentangan dengan tujuan syariat,” ujar Khoirul Huda, Peneliti El-Bukhari Institute, pada Talkshow Pemuda Menarasikan Perdamaian; Peran Pemuda dan Agama dalam Menggalakkkan Kontra Narasi Ekstrimisme, Sabtu (15/9/19).

Dalam buku Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis yang ditulis para peneliti el-Bukhari Institute, setidaknya terdapat sebelas klasifikasi tema Hadis yang konsisten didakwahkan oleh ISIS. Diantaranya ialah Hadis Hijrah, Jihad, Ghuraba, keberkahan negeri Syam, Khilafah, dan Hadis tentang 72 bidadari.

Tapi lagi-lagi, lanjut Huda, pandangan atau narasi jihad dan hijrah mengerucut pada satu kelompok yang dianggap benar di akhir zaman. Yang mengambil istilah ghuraba dalam salah satu hadis Nabi, yang artinya orang asing berbeda dari umum yang berada pada keberanan.

Tapi term ghuraba dalam narasi yang beredar di media sosial dipersempit untuk kelompok tertentu yang berjuang untuk ranah politik saja, yaitu orang-orang yang berjihad. Lebih lanjut, ghuraba kemudian ditafsirkan sebagai orang-orang yang melakukan al-wala dan al-bara, yaitu orang-orang yang melakukan sesuatu karena Allah dan terlepas dari menyekutukan-Nya.

“Sekelompok orang ada yang menjustifikasi bahwa alghuraba itu mereka. Istilah ghuraba jarang terekspos dalam ajaran Islam, baru akhir-akhir ini terekspos bahwa ghuraba itu adalah terkait dengan ideologi tertentu yang puritan,” jelas Huda dalam acara yang diadakan oleh Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia Regional Jakarta dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Internasional 2019 itu.

Padahal term ghuraba memiliki banyak penafsiran menurut para ahli bahasa, siapa saja bisa menjadi bagian dari itu. Misalnya orang yang bekerja dalam konteks ilmu kedokteran mereka adalah ghuraba, orang berbeda dengan orang pada umumnya, karena tidak semua orang bisa menjadi dokter dan mereka dalam kebenaran karena menolong orang karena Allah, misalnya.

Siapa yang Rentan Terhadap Narasi Radikal di Medsos?

Di sosial media tren hijrah, jihad dan lainnya banyak digandrungi para pemuda musllim. Mereka adalah pegiat sosial media yang rata-rata kisaran umurnya 17-35 tahun. Para pemuda tersebut merupakan target yang sangat rawan, yang tiap hari dihadapkan dengan informasi sangat deras dan mengandung propaganda radikal.

Sementara secara afiliasi keagamaan, ternyata 50 persen pemuda Indonesia tidak merasa terafiliasi dengan ormas-ormas besar, hanya 36 persen mengaku terafiliasi NU dan sisanya muhammadiyah. “Orang-orang muda yang tanpa afiliasi tadi ini rawan terbawa ke kanan atau kiri,” ujar Huda.

Lalu bagaimana sebagai orang awam agar tidak termakan propaganda semacam itu? Salah satu alternatif kunci yang paling penting yaitu mengikuti pandangan umum. Menurut Huda, jika masih dirasa sulit memahami term-term dalam narasi keagamaan yang berbau radikal tersebut, maka lebih baik mengikuti pandangan umum yang berkembang di masyarakat terutama yang disepakati oleh para ulama. Dalam hadis dikatakan sawadal a’dzam (golongan yang besar/mayoritas).

“Misalnya, pandangan umum yang dimiliki masyarakat adalah keinginan hidup sejahtera, damai, beribadah dengan tenang dan bahagia, sedangkan di sana ada konflik,” jelas Huda.

Kunci yang kedua, yaitu dengan mengikuti pendapat yang paling otoritatif. Misalnya di indonesia ini ada dua ormas terbesar yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, maka ikuti pandangan ulama dari dua kelompok ini.

“Dua kelompok Islam terbesar tersebut bisa dikatakan sebagai pandangan umum dalam beragama, jangan sendiri karena serigala hanya akan menerkam domba yang sendirian,” kata Huda.

credit : bincangsyariah.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here