Hinaan adalah sesuatu yang menyakitkan, yang harus dijauhi oleh seorang muslim. Biasanya alasan seseorang melakukan penghinaan terhadap seseorang dilantarai dari ketidaksukaan, berlanjut kepada kemarahan dan di akhiri dengan kebencian. padahalah dalam Alquran telah menyatakan janganlah ketidaksukaan engkau pada seseorang membuat engkau berlaku tidak adil.

Seseorang muslim yang baik, haruslah mampu menahan untuk menghina dan mampu juga untuk tidak membalas hinaan. Nabi pernah berpesan jangan marah maka bagimu adalah surga. emang balasan yang sangat setimpal bagi orang yang mampu menahan marah akibat dihina atapun menahan marah karena ketidaksukaan.

Efek paling bahaya yang ditimbulkan dari menghina adalah terjadinya tindak kekerasan yang berujung pada perang saudara. Terlebih lagi bagi masyarakat Indonesia yang berbeda suku, etnis dan bahasa, mudah sekali disulut perpecahan kalau rasa toleransi dan rasa menahan marahnya menghilang.

Menurut Hemat penulis, hinaan dan cacian di akhir-akhir ini sering terjadi, apalagi di sosmed, siapapun bisa menghujat seseorang apabila terjadi perbedaan pendapat. Banyak Netizen yang karena keawamanya menghina para cendekia dan ulama yang ilmunya sudah mumpuni. dan ini sangat berbahaya, nabi bersabda bahwa daging ulama adalah racun. barang siapa menghina ulama maka tunggulah racun itu menyerangmu.

Untuk itu agar bisa menahan menghina seseorang dan bisa tahan apabila dihina simaklah sedikit kisah cucu nabi, yaitu Sayyidina Husain.

Dikisahkan tentang Sayyidina Husain bin Ali radiyallahu ‘anhumâ bahwa telah sampai kepadanya perkataan seseorang yang tidak menyenangkannya, kemudian ia mengambil piring besar dan memenuhinya dengan kurma yang baru saja dipetik. Ia membawanya sendiri ke rumah orang yang berkata tidak menyenangkan itu.

Sayyidina Husain mengetuk pintu rumah orang itu. Orang itu berdiri membukanya. Ia melihatnya membawa piring besar yang penuh dengan kurma. Orang itu bertanya: “Apa ini, wahai cucu Rasulullah?”

Sayyidina Husain menjawab: “Ambillah piring penuh kurma ini, karena telah sampai kepadaku bahwa kau telah menghadiahkan amal kebaikanmu padaku, maka aku ganti dengan ini.” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1988, hlm. 24-25)

Apa yang dilakukan Sayyidina Husain dalam kisah di atas tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia membawa formula “lâ taghdab” ke tingkat yang lebih tinggi, tidak sekedar bermain di wilayah menahan (sabar), tapi juga memasuki wilayah bersyukur. Kita tahu, kompetensi dasar “tidak marah” adalah menahan diri (sabar). Dengan menahan diri, Allah sudah menjanjikan kita surga. Dan perlu diingat, menahan diri itu tidak mudah. Siapapun orangnya pasti pernah mengalaminya, yang membedakannya adalah berubah menjadi apa kemarahan itu.

Dalam kisah di atas, Sayyidina Husain menampilkan sikap yang sukar dimengerti oleh manusia pada umumnya. Ia mengekspresikan kemarahannya dengan wajah syukur. Memberikan sepiring besar kurma sebagai ganti amal baik yang telah berpindah kepadanya. Karena dalam Islam ada hukum yang mengajarkan, jika ada orang yang bicara buruk tentang seseorang, amal baiknya akan berpindah ke orang yang dibicarakannya.

Dilihat dari sudut pandang lain, sebagai penerus tradisi para nabi, tindakan Sayyidina Husain juga menunjukkan keadilan yang luar biasa. Dengan menerima hinaan atau gunjingan dari orang lain, ia mendapatkan dua kebaikan sekaligus; kebaikan dari keberhasilannya menahan amarah, dan kebaikan dari pindahnya amal baik orang lain kepadanya. Karena itu, ia memberikan sesuatu sebagai bentuk keadilan kepada orang yang telah berjasa kepadanya, meski jasa itu dilakukan dengan cara yang tidak beretika.

Selain itu, ia juga menampakkan akhlak mulia. Sikapnya berhasil meninggalkan kesan mendalam di hati si penggunjing atau penghinanya. Bisa jadi ini merupakan gambaran paling sesuai mengenai dakwah bil hikmah. Dakwah yang muncul dari penerapan kaidah agama di tataran ideal tertingginya, sehingga menyentuh hati orang tanpa harus membuat-buat sesuatu.

Ini membuat kita jadi tahu bahwa satu ajaran agama jika diamalkan dalam tataran idealnya dapat membuka banyak pintu amal-amal lainnya. Berbeda jika pengamalan ajaran agama berada di batas “hanya sekedarnya saja”. Misalnya anjuran “lâ taghdab—jangan marah” dilakukan hanya sekedarnya saja tanpa membawanya ke wilayah syukur, adil dan wilayah-wilayah lainnya.

dengan demikian apa yang dilakukan Oleh Sayyidina Husain adalah cara terbaik ketika menghadapi hinaan, dan yang paling penting jadikanlah apapun yang terjadi sebagai ladang mencari amal, dan ini bisa dilakukan oleh orang yang paham dan mengerti esensi ajaran agama.

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here