Salah satu lagu yang berisikan kecintaan kepada Indonesia dan sangat terkenal di kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) adalah “Ya Ahlal Wathan” (Wahai Penduduk Negeri). Bahkan belakangan lagu yang diciptakan oleh K.H. Wahab Chasbullah ini semakin terdengar ramai di seantero bumi Nusantara.

Barangkali lagu itu sengaja diembuskan kembali agar kecintaan bangsa Indonesia kepada tanah air semakin kokoh dan tidak luntur oleh buaian-buaian manis sebagian kelompok Muslim yang menghendaki tegaknya khilafah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Dalam hal ini, memang Allah menekankan manusia agar saling mengingatkan dan menasihati satu sama lain (aż-Żâriyât (51): 55 dan al-‘Aṣr (103): 3). Sebab, hati dan pikiran manusia seringkali berubah-ubah dari waktu ke waktu. Apalagi kata Nabi Muhammad saw. manusia adalah tempatnya salah dan lupa (al-insân maḥallu al-khaṭâ’ wa an-nisyân).

Salah satu cara mengingatkan dan menasihati sesama anak bangsa tersebut adalah menviralkan lagu “Ya Ahlal Wathan” secara “terstruktur, sistematis, dan masif.” Sehingga nantinya roh dan spirit lagu tersebut perlahan-lahan meresap dan menyatu ke dalam jiwa dan pikiran masyarakat Indonesia.

Mengingat kata Imam ‘Ali bin Abi Thalib as. kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir (ḥaqqun bi gair niẓâmin yaglibuh al-bâṭil bi niẓâmin).

Dengan kata lain, terkadang kita (masyarakat Indonesia) gampang terbuai oleh bisikan dan rayuan maut sekelompok Muslim yang senantiasa menggoda siang dan malam agar meninggalkan kesepakatan (ijmak) para ulama dan tokoh bangsa dahulu kala. Mereka ingin menghapus kecintaan dan kesetiaan kita kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila secara perlahan-lahan dan menggantinya dengan sistem khilafah yang berdasarkan al-Qur’an dan hadis sesuai tafsir mereka sendiri.

Apalagi akhir-akhir ini kelompok terorisme yang memang anti Pancasila dan secara nyata melawan pemerintah yang sah masih menghantui kehidupan masyarakat Indonesia. Kenyataan ini setidaknya dilihat dari beberapa penangkapan terhadap beberapa orang yang diduga teroris di beberapa daerah, baik anggota Jaringan Ansharut Daulah (JAD) maupun Muslim yang terpapar paham radikal ISIS.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengetengahkan kalimat ḥubb al-waṭan min al-imân (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) yang terdapat dalam lagu tersebut. Sebagian masyarakat NU menganggap kalimat tersebut adalah hadis Nabi. Menurut Ahmad Baso, kalimat ḥubb al-waṭan min al-imân memang sebuah hadis.

Namun, belakangan kalangan Wahabi yang mulai meramaikan percaturan keislaman di bumi Nusantara menganggap hadis itu tidak sahih dan bahkan menganggapnya sebagai hadis palsu. Sikap keras kalangan Wahabi inilah yang kemudian dijadikan alat oleh orang-orang Belanda untuk melawan para ulama.

Mengingat para ulama merupakan penggerak utama kekuatan masyarakat untuk melawan penjajahan Belanda. Apalagi waktu itu (sekitar tahun 1916) murid-murid perguruan Nahdlatul Wathan memang diharuskan menyanyikan lagu Ya Ahlal Wathan sebelum memulai pelajaran (“Agama NU” untuk NKRI, 2015: 116-117 & 119).

Dalam kesempatan lain, Syekh Muḥammad ‘Abd ar-Raḥmân as-Sakhâwî, ulama mazhab asy-Syâfi‘î dari Kairo (hafal al-Qur’an dari beberapa qira’ât, beberapa kitab fikih, hadis, dan ilmu bahasa Arab), mengatakan tidak mengetahui sumber hadis ḥubb al-waṭan min al-imân tersebut.

Namun demikian, makna hadis itu benar (sahih) atau sesuai dengan beberapa hadis yang disebutkan dalam kitab al-Mujâlasah, karya Imam ad-Dainûrî. Beberapa hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Aṣma‘î: pertama, “aku (al-Aṣma‘î) mendengar orang Arab dusun (Badui) berkata: jika kamu ingin mengetahui hakikat lelaki sejati, maka lihatlah kecintaannya kepada tanah airnya, rasa rindunya kepada saudara-saudaranya, dan tangisnya atas perkara-perkara yang telah dilewatkan.”

Kedua, “al-Hind berkata: ada tiga perkara yang terdapat dalam tiga kelompok hewan: unta yang menyayangi kandangnya meskipun berada di tempat yang jauh; burung yang menyayangi sarangnya meskipun tandus; dan manusia yang menyayangi tanah airnya meskipun di negara-negara lain lebih makmur (al-Maqâṣid al-Ḥasanah, 1985: 21 & 297).”

Kerinduan terhadap tanah air ini juga dialami Rasulullah saw. Syekh as-Sakhâwî (hlm. 298) menyebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. rindu kepada Mekah, tempat lahir dan tumbuh kembang beliau, maka Allah menurunkan ayat al-Qur’an (al-Qaṣaṣ (28): 85): “sesungguhnya (Allah) yang Mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) al-Quran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali (Mekah).”

Keterangan senada juga disampaikan oleh Ḍaḥḥâk. Dalam hal ini, para ulama memang masih berbeda pendapat ketika menafsirkan kata ilâ ma‘âd (tempat kembali). Ada yang menafsirkan “hari kiamat”, “surga”, “kematian” dan ada pula yang menafsirkan “Mekah” (Ibn Kaśîr, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Aẓîm, 2000: 1427-1428).

Di sisi lain, cinta tanah air merupakan bagian dari akhlak terpuji yang sangat ditekankan dalam Islam. Mengingat Rasulullah saw. sendiri adalah lelaki sejati yang sangat mencintai tanah airnya (Mekah).

Kenyataan ini diungkapkan sendiri dalam doa indahnya: allâhumma ḥabbib ilayya al-madînah kamâ ḥabbabta ilayya makkah (ya Allah, berilah aku kecintaan kepada Madinah sebagaimana Engkau telah memberiku rasa cinta kepada Mekah).

Oleh karena itu, Syekh Ḥafiḍ Ḥasan al-Mas‘ûdî (ulama al-Azhar) menyebutkan bahwa setiap Muslim harus cinta kepada tanah airnya sebagai bagian dari akhlak terpuji Islam (Durûs al-Akhlâq, II: 21-24).

Sebab, tanah air adalah tempat orang-orang atau para penduduk hidup. Mereka bernauang di bawah langitnya, tinggal di atas buminya, memakan tetumbuhan dan binatangnya, dan meminum airnya (Durûs al-Akhlâq, hlm. 21).

credit : bincangsyariah.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here