Di dunia ini, kejahatan terorisme adalah pembunuhan dengan unsur kesengajaan yang tidak dibernarkan oleh agama apa pun. Apa lagi bom bunuh diri, dan kekerasan dalam Islam? Tujuan beragama bukan untuk meneror masyarakat dan keamanan bangsa dan negara. Melainkan beragama adalah untuk menegakkan perdamaian.

Agama bagi manusia bukan sekedar sebagai sistem kontrol terhadap perilaku dalam tatanan kehidupan manusia. Secara kompleks, agama merupakan sistem nilai yang dibutuhkan oleh manusia untuk melanjutkan roda kehidupan antar generasi, dan mewujudkan kehidupan damai di seluruh alam semesta.

Sungguh peran agama yang begitu besar sebagai salah satu alasan para oknum kejahatan sebagai alasan dari berbagai konflik. Tidak heran, berbagai masalah khususnya terorisme yang terjadi ketika bersinggungan dengan masalah agama akan mengancam tatanan sosial dan keamanan masyarakat.

Fenomena terorisme terjadi di berbagai daerah, bahkan Indonesia bisa dikatakan darurat aksi kekerasan teroris sudah merambah ke lembaga kepolisian. Salah satunya bom bunuh diri, Polri sebagai institusi penegak hukum yang dinilai mempunyai keamanan yang tinggi masih tidak kunjung terjamin.

Islam Melarang Terorisme

Di Indonesia, aksi kelompok teroris awal mulanya karena beberapa faktor. Pertama, kesenjangan sosial dan kemiskinan. Kedua, ketidakdilan. Ketiga, agama selalu diyakini sebagai agama yang paling benar di dunia ini. Faktor-faktor adanya fenomena terorisme ini sebenarnya menjadi kewaspadaan semua pihak.BACA JUGA  Bisakah HTI Fair Play? Menyoal Fikrah Khilafah

Selain itu, motif jihad yang dilakukannya adalah semata-mata menutup kebenaran agama dalam menciptakan kedamaian di sebuah negara. Agama merupakan esensi dalam memaksimalkan kehidupan agama, bangsa, dan negara. Sebab itu, ujung pangkal terorisme yang dinginkan adalah kerusakan di mana-mana.

Hal yang tidak kalah penting dari persoalan ini, adalah agama sebagai sumber kedamaian dan peduli kemanusiaan. Sebaliknya, menjadi sumber kekerasan, kejahatan, dan kerusakan bagi agama dan pembangunan negara. Parahnya, kelompok teroris yang berbuat kemafsadatan datang dari dan menggunakan agama.

Dan agamanya Islam, sehingga masyarakat dunia mencapkali Islam sebagai agama yang memproduksi lahirnya kelompok terorisme. Faktanya tidak demikian, itu hanyalah kelompok tertentu yang bertindak kekerasan tidak mampu bertanggung jawab atas ancaman yang dilakukan pada masyarakat.

Terorisme dalam al-Qur’an

Praktik pembunuhan illegal oleh teroris tidak ada dalilnya dalam agama tanpa ada sebab akibat. Apalagi menurut semua agama, Islam saja tidak membolehkan orang beragama melakukan kejahatan. Tidak heran ketika agama selalu disebut sebagai akar dari permasalahan ataupun sumber kekerasan.

Jika agama Islam yang selalu disebut sebagai agama teroris oleh beberapa para orientalis barat yang mencoba menggali ajaran Islam untuk melihat berbagai kekurangannya serta memberikan stigma buruk terhadap ajaran Islam. Dalam historis, Islam berpihak pada kesantunan bukan pada kerusakan.

Konteks terorisme yang melakukan kejahatan sudah ada dalilnya sebagaimana Firman Allah dalam (QS. Al-Maidah [5]: 33) berikut ini:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berusaha melakukan kerusakan di muka bumi, yaitu mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang. Yang demikian itu suatu kehinaan bagi mereka di dunia sedangkan di akhirat mereka mendapat siksa yang pedih.” (QS. Al-Maidah [5] : 33).

Ayat diatas merupakan salah satu ayat yang menjadi dasar bahwa dalam ajaran Islam tidak ada seruan untuk melakukan kekerasan. Apalagi kejahatan semacam pembunuhan yang selalu dilakukan oleh segerombolan teroris, Islam itu hanya mengobarkan untuk saling menyayangi satu sama lain, belas kasih, dan merajut damai dalam hidup.

Refleksi

Yusuf al-Qardawi berpendapat misalnya dilansir dalam Islam online & News Agencies menyebutkan, “Islam adalah agama yang toleran yang menempatkan jiwa manusia dalam rasa hormat yang tinggi dan menganggap serangan terhadap orang yang tidak bersalah sebagai dosa yang sangat besar.”

Pendapat tersebut memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa Islam bukanlah agama yang membenarkan pembunuhan, menyakiti orang lain serta menyelesaikan konflik dengan cara yang tidak manusiawi. Dalam hal itu, kekerasan-kekerasan yang selama ini terjadi.

Dalam suatu hadis qudsi disebutkan, bahwa “mereka yang saling menyayangi akan disayangi oleh pemilik kasih sayang. Sayangilah yang ada di bumi ini niscaya langit yang dilangit (Allh Swt) akan menyayangimu. (HR. Bukhari).” Artinya, sikap kasih sayang itu menghidupkan aroma damai dalam kehidupan masyarakat. Islam sendiri mengajarkan hal tersebut seperti yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Atas dasar dan fakta yang ada menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, khususnya teroris yang sudah menjadi nara pidana untuk berhijrah pada kehidupan Islam yang damai. Berislam itu tidak bisa memaksa orang lain untuk sama seperti apa yang dipahami. Apalagi melakukan pemaksaan dengan cara kekerasan agar orang lain bisa sepemahaman dengan kita, pemahaman seperti ini harus terus dikampanyekan supaya masyarakat sadar bahwa Islam itu bukan agama teror.

Sc ; Harakatuna.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here